Masih Ingat Suara “Tuuut” dari Gerobak? Ini Kisah Kue Putu yang Mulai Langka
--Ilustrasi gambar
PAPUATENGAH.DISWAY.ID - Ada satu suara yang dahulu cukup mudah dikenali di permukiman pada sore hingga malam hari. Bukan suara kendaraan atau pedagang yang berteriak menawarkan dagangan, melainkan bunyi panjang seperti peluit dari sebuah gerobak.
“Tuuut... tuuuut...”
Bagi sebagian generasi, suara tersebut menjadi pertanda bahwa penjual kue putu sedang melintas. Tak perlu melihat gerobaknya, bunyi khas dari alat pengukus sudah cukup untuk membuat anak-anak keluar rumah dan menghampiri pedagang.
Namun kini, suara tersebut semakin jarang terdengar. Penjual kue putu keliling yang dahulu mudah ditemukan di gang-gang permukiman mulai semakin sulit dijumpai di sejumlah wilayah. Kondisi ini juga pernah dicatat dalam berbagai tulisan tentang kue putu yang menyebut pedagangnya kini lebih jarang ditemukan.
Bukan Sekadar Kue, tetapi Juga Punya “Suara” Khas
kue putu termasuk jajanan tradisional yang memiliki cara penyajian cukup unik.
Adonan berbahan dasar tepung beras dimasukkan ke dalam tabung bambu kecil, kemudian diberi isian gula merah dan dimasak menggunakan uap panas. Setelah matang, kue putu biasanya disajikan bersama kelapa parut.
Yang membuatnya berbeda adalah alat kukus yang digunakan pedagang.
Uap panas dari proses memasak keluar melalui bagian tertentu pada perangkat tersebut dan menghasilkan bunyi menyerupai siulan atau peluit. Suara inilah yang kemudian menjadi semacam identitas pedagang kue putu.
Penelitian mengenai kuliner dan identitas dalam sastra bahkan mencatat bagaimana kedatangan pedagang kue putu dikenali melalui bunyi khas dari gerobaknya.
Suara Gerobak yang Dulu Menjadi Penanda Waktu
Bagi orang yang pernah tumbuh dengan suasana kampung, suara gerobak kue putu bukan sekadar bunyi dari alat memasak.
Suara tersebut sering menjadi penanda waktu.
Ketika bunyi peluit terdengar dari kejauhan, masyarakat tahu bahwa pedagang putu sedang lewat. Anak-anak biasanya segera keluar rumah, sementara orang dewasa membeli beberapa bungkus untuk teman minum teh atau camilan keluarga.
Dalam kajian tentang kue putu dalam karya sastra, bunyi gerobak bahkan digambarkan sebagai sesuatu yang dapat menjadi penanda waktu bagi seseorang untuk berhenti bekerja.
Itulah sebabnya kue putu memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kenangan masa kecil bagi sebagian masyarakat.
Manis Gula Merah, Gurih Kelapa
Dari sisi rasa, kue putu sebenarnya memiliki komposisi yang sederhana.
Bahan utamanya antara lain tepung beras, gula merah dan kelapa. Adonan tepung dimasukkan ke dalam bambu, kemudian dikukus hingga matang. Setelah dikeluarkan dari cetakan, kue putu disajikan dengan taburan kelapa parut.
Perpaduan tersebut menghasilkan rasa manis dari gula merah dan gurih dari kelapa.
Kue biasanya paling nikmat disantap ketika masih hangat. Uap panas yang keluar ketika kue baru dikeluarkan dari bambu juga menjadi bagian dari daya tarik jajanan ini.
Mengapa Penjual kue putu Keliling Makin Jarang?
Dahulu, model penjualan kue putu sangat lekat dengan pedagang keliling menggunakan gerobak. Pedagang berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain sambil membawa peralatan untuk membuat kue langsung di tempat. Literatur mengenai kue putu juga mencatat pola penjualan secara berkeliling menggunakan gerobak maupun pikulan.
Kini pola konsumsi masyarakat berubah.
jajanan tradisional menghadapi persaingan dengan berbagai makanan dan minuman modern yang lebih mudah ditemukan, sementara tidak semua pedagang lama memiliki penerus untuk melanjutkan usaha.
Proses membuat kue putu secara langsung di gerobak juga membutuhkan peralatan khusus dan waktu. Pedagang tidak sekadar membawa kue yang sudah jadi, tetapi harus mempertahankan proses pengukusan agar pembeli mendapatkan kue dalam kondisi hangat.
Karena itu, keberadaan pedagang keliling menjadi semakin tidak mudah ditemukan di sejumlah tempat.
kue putu dan Nostalgia yang Sulit Digantikan
Menariknya, yang dirindukan dari kue putu sering kali bukan hanya rasanya.
Ada pengalaman yang menyertainya.
Mulai dari mendengar suara gerobak dari kejauhan, berlari keluar rumah, memilih berapa potong yang akan dibeli, hingga menunggu kue dikeluarkan dari bambu dan ditaburi kelapa.
Suara khas tersebut menjadi bagian dari pengalaman membeli kue putu. Bahkan beberapa tulisan tentang jajanan ini menggambarkan suara pengukus sebagai semacam “iklan berjalan” yang membuat calon pembeli mengetahui kehadiran pedagang tanpa harus melihat gerobaknya.
Bukan Hanya Makanan, tetapi Bagian dari Ingatan Kolektif
kue putu menunjukkan bagaimana sebuah makanan sederhana dapat memiliki nilai budaya yang lebih luas.
Resepnya memang tidak rumit. Bahan-bahannya pun relatif sederhana. Namun, cara menjualnya menggunakan gerobak dan suara khas dari pengukus membuat kue ini memiliki identitas yang kuat.
Di tengah semakin banyaknya pilihan kuliner modern, keberadaan penjual kue putu keliling menjadi bagian dari tradisi jajanan jalanan yang menarik untuk tetap dikenang dan dilestarikan.
Sebab, ketika pedagangnya semakin jarang, bukan hanya satu jenis jajanan yang berpotensi hilang dari keseharian. Suara gerobaknya pun perlahan dapat ikut menghilang dari ingatan generasi berikutnya.
kue putu, Ketika Sebuah Bunyi Menjadi Kenangan
Bagi generasi yang pernah mendengarnya, suara “tuuut... tuuuut...” dari gerobak kue putu mungkin sederhana.
Tetapi suara itu pernah menjadi tanda bahwa sore telah tiba, penjual jajanan sedang lewat, dan ada kue hangat berisi gula merah yang siap dinikmati.
Kini, ketika penjual kue putu keliling semakin sulit ditemukan di sejumlah daerah, bunyi khas tersebut justru menjadi bagian dari nostalgia kuliner Indonesia.
kue putu akhirnya bukan hanya tentang tepung beras, gula merah dan kelapa. Ia juga tentang suara, aroma, kehangatan, dan kenangan masa lalu yang masih tersimpan dalam ingatan banyak orang.
Sumber: