Sejit dalam Pernikahan Tionghoa, Simbol Keseriusan dan Penyatuan Dua Keluarga

Kamis 06-08-2026,10:26 WIB
Reporter : Rifaa Ayuni
Editor : Rifaa Ayuni

PAPUATENGAH.DISWAY.ID - Dalam rangkaian adat pernikahan Tionghoa, terdapat sebuah prosesi yang memiliki makna mendalam, yaitu Sejit. Tradisi ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum hari pernikahan karena menandai keseriusan kedua belah pihak untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

Bagi sebagian masyarakat Tionghoa, Sejit bukan sekadar acara penyerahan seserahan. Prosesi ini juga menjadi simbol penghormatan kepada keluarga calon mempelai wanita sekaligus mempererat hubungan antara dua keluarga besar yang akan dipersatukan melalui ikatan pernikahan.

Meski masih mempertahankan nilai-nilai tradisional, pelaksanaan Sejit saat ini telah mengalami berbagai penyesuaian sehingga lebih sederhana tanpa menghilangkan makna utamanya.

Apa Itu Sejit?

Sejit merupakan prosesi penyerahan berbagai hantaran dari keluarga calon mempelai pria kepada keluarga calon mempelai wanita. Acara ini biasanya dilaksanakan beberapa minggu hingga beberapa bulan sebelum hari pernikahan.

Dalam tradisi Tionghoa, Sejit menjadi bentuk komitmen bahwa kedua keluarga telah mencapai kesepakatan untuk melangsungkan pernikahan. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi kedua keluarga untuk saling mengenal lebih dekat dalam suasana kekeluargaan.

Makna Filosofis Sejit

Lebih dari sekadar tradisi, Sejit memiliki nilai filosofi yang kuat.

Beberapa makna yang terkandung dalam prosesi ini antara lain:

    Melambangkan kesungguhan pihak pria dalam mempersunting calon mempelai wanita. Menjadi bentuk penghormatan kepada orang tua dan keluarga calon pengantin wanita. Mempererat hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak. Menjadi simbol harapan agar kehidupan rumah tangga dipenuhi kebahagiaan, kemakmuran, dan keharmonisan.
Nilai-nilai tersebut membuat Sejit tetap dipertahankan oleh banyak keluarga Tionghoa hingga saat ini.

Isi Hantaran dalam Prosesi Sejit

Isi hantaran Sejit dapat berbeda di setiap daerah maupun keluarga. Namun, secara umum beberapa barang yang sering dibawa antara lain:

    Angpao sebagai simbol keberuntungan. Kue tradisional atau kue mangkok. Buah-buahan, terutama jeruk yang melambangkan rezeki dan keberuntungan. Teh atau minuman khas. Perhiasan untuk calon mempelai wanita. Pakaian atau perlengkapan pribadi. Lilin merah dan perlengkapan adat lainnya. Makanan atau bingkisan sebagai lambang kemakmuran.
Sebagian hantaran biasanya dikembalikan oleh keluarga mempelai wanita sebagai simbol saling berbagi rezeki dan menjaga keseimbangan dalam hubungan kedua keluarga.

Prosesi Sejit

Pelaksanaan Sejit umumnya diawali dengan kedatangan rombongan keluarga calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita sambil membawa hantaran yang telah disusun dengan rapi.

Setelah itu dilakukan penyerahan hantaran secara simbolis yang diterima oleh perwakilan keluarga wanita. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa, ramah tamah, makan bersama, serta pembahasan teknis mengenai persiapan menuju hari pernikahan.

Di beberapa keluarga, prosesi juga disertai dengan penyampaian nasihat dari orang tua sebagai bekal bagi calon pengantin dalam membangun rumah tangga.

Tradisi yang Beradaptasi dengan Zaman

Perkembangan zaman membuat pelaksanaan Sejit mengalami banyak penyesuaian. Jika dahulu jumlah hantaran dan tata cara pelaksanaannya diatur secara ketat, kini banyak keluarga yang memilih prosesi lebih sederhana sesuai kondisi dan kesepakatan bersama.

Meski demikian, nilai utama Sejit sebagai simbol penghormatan, komitmen, dan penyatuan dua keluarga tetap dipertahankan.

Bahkan, tidak sedikit pasangan muda yang memadukan unsur tradisional dengan konsep modern agar prosesi tetap sakral sekaligus lebih praktis.

Mengapa Sejit Masih Dipertahankan?

Bagi masyarakat Tionghoa, pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga dua keluarga besar. Oleh karena itu, Sejit menjadi momen penting untuk membangun komunikasi, mempererat hubungan, serta menunjukkan rasa saling menghormati sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Tradisi ini juga menjadi cara untuk melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

BACA JUGA:Mengenal Bacang, Makanan Tradisional Tionghoa yang Populer di Indonesia

Sejit merupakan salah satu prosesi penting dalam adat pernikahan Tionghoa yang melambangkan keseriusan, penghormatan, dan penyatuan dua keluarga. Meski tata cara pelaksanaannya kini lebih fleksibel, makna filosofis di balik tradisi ini tetap terjaga.

Melalui Sejit, kedua keluarga tidak hanya mempersiapkan sebuah pesta pernikahan, tetapi juga membangun fondasi hubungan yang harmonis sebagai awal kehidupan rumah tangga pasangan pengantin.

Kategori :

Terpopuler