Imlek 2575 Kongzili: Merayakan Harmoni dan Melacak Jejak Perayaan di Nusantara
Imlek 2575 Kongzili: Merayakan Harmoni dan Melacak Jejak Perayaan di Nusantara-ilustrasi-
PAPUATENGAH.DISWAY.ID - Tahun Baru Imlek, atau sering disebut Sin Cia, identik dengan kemeriahan barongsai, bagi-bagi angpao, dan keluarga berkumpul. Namun, di balik gemerlapnya, tersimpan makna filosofis yang dalam dan sejarah panjang yang membentuk perayaan ini menjadi seperti sekarang. Apalagi, di Indonesia, Imlek telah menjadi bagian dari mozaik kebudayaan nasional yang kaya.
Makna Inti: Penyucian dan Harapan Baru
Pada hakikatnya, perayaan Imlek merupakan bentuk penyucian dan permulaan baru. Secara harfiah, Imlek berarti "Kalender Bulan" (Yin Li), yang menandakan sistem penanggalan berbasis peredaran bulan.
Sejarawan dan budayawan Tionghoa Indonesia, Agni Malagina, menjelaskan, "Inti dari Tahun Baru Imlek adalah mensyukuri apa yang sudah dilalui pada tahun yang lalu dan menyambut tahun yang baru dengan harapan yang lebih baik. Itu adalah saat untuk keluarga berkumpul dan memperbarui hubungan."
Ritual seperti sembahyang leluhur (Chun Ciu) dan sembahyang kepada Thian (Tuhan) pada Cap Go Meh adalah ekspresi rasa syukur dan penghormatan. Warna merah yang mendominasi bukan tanpa alasan. Dalam filosofi Tionghoa, merah melambangkan api, yang diyakini dapat mengusir nasib buruk dan energi negatif, sekaligus simbol kebahagiaan, kegembiraan, serta semangat hidup.
Melacak Jejak sejarah: Dari Tiongkok Kuno Hingga Nusantara
Akar sejarah Imlek bisa ditelusuri hingga ribuan tahun lalu, berkaitan dengan ritual syukur masyarakat agraris Tiongkok kepada dewa-dewa dan leluhur atas hasil panen dan memohon keberkahan tahun depan.
Perjalanan Imlek ke Nusantara tak lepas dari gelombang migrasi etnis Tionghoa selama berabad-abad. "sejarah perayaan Imlek di Indonesia berjalan seiring dengan sejarah komunitas Tionghoa di sini. Dulu, perayaannya sangat privat, di dalam rumah atau klenteng," ungkap Agni Malagina.
Ia menambahkan, "Baru setelah era reformasi, terutama setelah Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 2002, perayaannya menjadi lebih terbuka dan dirayakan oleh masyarakat luas, bahkan menjadi atraksi wisata."
Perubahan status ini menjadi titik penting yang mengubah Imlek dari sekadar perayaan etnis menjadi festival budaya nasional Indonesia, yang turut dirayakan dan diapresiasi oleh berbagai kalangan.
Imlek di Indonesia: Simbol Keragaman dan Toleransi
Kini, perayaan Imlek di Indonesia memiliki kekhasannya sendiri. Unsur-unsur lokal menyatu dengan tradisi inti. Kita bisa melihat barongsai mengiringi musik tradisional Tionghoa di depan mall, sementara makanan khas seperti nasi lemak atau lontong cap go meh menjadi bukti akulturasi.
Makna Imlek pun semakin universal: tentang kemenangan kebaikan atas kejahatan (seperti dalam legenda Nian), tentang pentingnya keluarga, tentang harapan untuk rezeki yang berlimpah, kesehatan, dan perdamaian.
Dengan memahami makna filosofis dan sejarahnya, kita tidak hanya sekadar menikmati kemeriahannya, tetapi juga menghargai Imlek sebagai warisan budaya yang penuh nilai, yang telah berhasil menemukan rumahnya di bumi Nusantara yang berbhineka. Perayaan ini adalah pengingat indah tentang harmonisasi dan kekayaan budaya Indonesia.
Sumber: