Balita Sering Bertengkar? Ini Cara Tepat Mengatasinya Menurut Ahli

Kamis 30-07-2026,18:16 WIB
Reporter : Rifaa Ayuni
Editor : Rifaa Ayuni

PAPUATENGAH.DISWAY.ID - Melihat balita saling berebut mainan, menangis, atau bertengkar dengan saudara maupun teman sebaya sering kali membuat orang tua merasa khawatir. Padahal, menurut para ahli perkembangan anak, konflik kecil pada usia balita merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari proses belajar mengenal emosi, berbagi, serta berinteraksi dengan orang lain.

Pada usia 2 hingga 5 tahun, anak masih belajar mengendalikan perasaan dan belum sepenuhnya mampu mengungkapkan keinginan dengan kata-kata. Akibatnya, pertengkaran kerap terjadi saat mereka merasa kecewa, marah, atau tidak ingin berbagi.

Meski demikian, orang tua tetap perlu mendampingi agar konflik tidak berkembang menjadi kebiasaan yang kurang baik.

Mengapa Balita Sering Bertengkar?

Ada beberapa faktor yang membuat balita lebih mudah terlibat pertengkaran, antara lain:

    Ingin mempertahankan mainan atau barang yang disukai. Belum memahami konsep bergantian dan berbagi. Kesulitan mengendalikan emosi. Merasa lelah, lapar, atau mengantuk sehingga lebih mudah rewel. Ingin mendapatkan perhatian dari orang tua atau orang di sekitarnya.
Memahami penyebab pertengkaran akan membantu orang tua menentukan cara penyelesaian yang lebih tepat.

1. Tetap Tenang dan Jangan Langsung Memarahi

Saat anak bertengkar, hindari bereaksi dengan kemarahan atau membentak. Sikap orang tua yang tenang dapat membantu meredakan emosi anak.

Pisahkan anak jika situasi mulai membahayakan, kemudian beri waktu beberapa saat agar mereka lebih tenang sebelum diajak berbicara.

2. Ajarkan Anak Mengenali Emosinya

Balita sering kali belum mampu menjelaskan apa yang dirasakan. Orang tua dapat membantu dengan memberi nama pada emosinya.

Misalnya, katakan, "Kakak sedang marah karena mainannya diambil, ya?" atau "Adik sedih karena belum mendapat giliran." Cara ini membantu anak belajar mengenali dan mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.

3. Latih Anak Bergantian dan Berbagi

Kemampuan berbagi tidak muncul secara otomatis. Anak perlu belajar melalui latihan yang dilakukan secara berulang.

Ajarkan konsep bergiliran menggunakan timer atau hitungan sederhana sehingga setiap anak mendapat kesempatan yang sama menggunakan mainan.

4. Hindari Langsung Menyalahkan Salah Satu Anak

Jika orang tua langsung menyalahkan salah satu pihak tanpa mengetahui penyebabnya, anak dapat merasa diperlakukan tidak adil. Dengarkan penjelasan masing-masing anak sesuai kemampuan mereka, lalu bantu mencari solusi bersama.

5. Berikan Contoh Cara Menyelesaikan Konflik

Anak belajar melalui pengamatan. Oleh karena itu, orang tua perlu menunjukkan cara menyelesaikan masalah dengan tenang.

Ajarkan kalimat sederhana seperti:

    "Boleh aku pinjam setelah kamu selesai?" "Ayo kita main bersama." "Sekarang giliran kakak, nanti adik."
Semakin sering dicontohkan, semakin mudah anak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

6. Berikan Apresiasi Saat Anak Berhasil Berdamai

Ketika anak mampu berbagi, meminta maaf, atau menyelesaikan konflik dengan baik, berikan pujian yang spesifik.

Misalnya, "Ayah senang kamu mau bergantian bermain dengan adik." Apresiasi seperti ini dapat memperkuat perilaku positif yang telah dilakukan anak.

Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Pertengkaran sesekali merupakan hal yang normal. Namun, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak apabila perilaku agresif terjadi terus-menerus, misalnya sering memukul, menggigit, melukai orang lain, atau sulit dikendalikan meski sudah mendapat pendampingan.

Evaluasi juga diperlukan jika perilaku tersebut disertai keterlambatan bicara, kesulitan berinteraksi, atau perubahan perilaku yang berlangsung dalam waktu lama.

Konflik Kecil Bisa Menjadi Pelajaran Berharga

Pertengkaran pada balita bukan semata-mata perilaku negatif. Dengan pendampingan yang tepat, momen tersebut justru menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengelola emosi, berkomunikasi, menghargai orang lain, dan menyelesaikan masalah secara sehat.

Peran orang tua bukan menghilangkan semua konflik, melainkan membimbing anak agar mampu menghadapi perbedaan dengan cara yang baik. Bekal inilah yang akan menjadi dasar keterampilan sosial mereka hingga dewasa.

Kategori :